Tautan-tautan Akses

Beijing Pertimbangkan Suntikan 'Booster' Asing untuk Tingkatkan Kemanjuran Vaksinnya


A worker opens a package of coronavirus vaccine made by a Sinopharm subsidiary during a COVID-19 vaccination session for resident foreign journalists at a vaccination center in Beijing, Tuesday, March 23, 2021.
A worker opens a package of coronavirus vaccine made by a Sinopharm subsidiary during a COVID-19 vaccination session for resident foreign journalists at a vaccination center in Beijing, Tuesday, March 23, 2021.

China dilaporkan sedang mempertimbangkan untuk menggunakan vaksin produksi luar negeri sebagai suntikan penguat atau booster untuk orang-orang yang telah sepenuhnya disuntik dengan vaksin China, seperti Sinovac dan Sinopharm.

Menurut Caixin, majalah keuangan yang disegani di China, regulator obat di China telah menyelesaikan tinjauan panel ahli dari vaksin booster yang dikembangkan bersama oleh Shanghai Fosun Pharmaceutical (Fosun Pharma) dan perusahaan Jerman BioNTech. Suntikan booster, Fosun-BioNTech COVID-19, sekarang dalam tahap tinjauan administrasi.

Laporan itu muncul beberapa hari setelah Thailand dan Indonesia mengumumkan bahwa kedua negara itu akan beralih dari dosis buatan China ke vaksin buatan negara-negara Barat.

Thailand, yang telah menggunakan vaksin Sinovac, kini mengalami peningkatan kasus dan kematian. Di Indonesia, di mana kasus melonjak, kurang dari 7% dari populasinya yang berjumlah 271 juta telah divaksinasi, menurut Johns Hopkins. Indonesia telah melakukan salah satu pesanan terbesar di dunia untuk vaksin Sinovac, dengan membeli 125 juta dosis.

Indonesia dan Thailand akan berhenti menggunakan vaksin Sinovac setelah persediaan habis, langkah yang juga akan diambil Malaysia, menurut The Diplomat. Filipina dan Chili sedang meneliti kemungkinan penggunaan booster Fosun-BioNTech dan vaksin yang bukan buatan China. [lt/ft]

XS
SM
MD
LG