Tautan-tautan Akses

Lima Belas Tahun Gempa Yogya, 57 Detik Pelajaran bagi Dunia


Yogyakarta pasca gempa, 29 Mei 2006. (foto: AP)
Yogyakarta pasca gempa, 29 Mei 2006. (foto: AP)

Sudah lima belas tahun, namun ingatan Anggota DPR Idham Samawi tentang gempa Yogya tahun 2006 seolah masih lekat. Ketika itu, Idham adalah Bupati Kabupaten Bantul, daerah yang paling banyak menerima dampak sekaligus jumlah korban jiwa.

Pagi hari 27 Mei 2006, Idham sedang memberi makan ayam peliharaannya di belakang rumah dinas. Tiba-tiba gemeretak pepohonan terdengar, disusul getaran bumi semakin kencang. Tubuhnya limbung ketika mencoba masuk ke rumah dinas untuk mengajak istri dan cucunya mencari tempat aman.

“Dan yang luar biasa, di rumah dinas, di bagian belakang itu ada kolam ikan. Separuh lebih airnya itu terbuang keluar. Ketika goncangannya semakin tinggi, ikannya ikut terbuang keluar. Saya bisa bayangkan kira-kira di dalam rumah kayak apa,” kenang Idham di tengah acara memperingati 15 tahun gempa Yogya, Kamis (27/5).

Anggota DPR dan mantan Bupati Bantul, DIY, Idham Samawi. (foto:VOA/Nurhadi)
Anggota DPR dan mantan Bupati Bantul, DIY, Idham Samawi. (foto:VOA/Nurhadi)

Dalam beberapa menit, Idham menuju ke jalan di depan rumah dinasnya. Ratusan warga sudah terlihat berduyun-duyun bersama keluarga mereka, menggunakan semua benda yang bisa dipakai untuk mengangkut korban. Mereka menuju ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Panembahan Senopati yang lokasinya tidak jauh dari rumah dinas bupati.

“Sudah tidak cukup tempat, di selasar, di kamar jenazah dan sebagainya untuk menempatkan korban-korban itu. Itu kira-kira jam 7 pagi. Bayangkan, jam 6 kurang sedikit gempanya, jam 7 sudah seperti itu. Sampai akhirnya korban ditempatkan di tempar parkir tanpa alas,” papar Idham.

Yogyakarta belajar banyak dari bencana gempa bumi dahsyat itu. Pelatihan mitigasi bencana dilakukan rutin, sarana dan prasarana penanda bahaya dipasang, terutama karena ancaman tsunami dari Samudera Indonesia di selatan. Selain itu, masyarakat juga menerapkan sistem keterlibatan korban dalam rehabilitasi kebencanaan, yang kini dijadikan model untuk daerah lain yang mengalami peristiwa serupa.

Candi Prambanan pasca gempa di Yogyakarta, 28 Mei 2009. (Foto: AP)
Candi Prambanan pasca gempa di Yogyakarta, 28 Mei 2009. (Foto: AP)

Pemerintah pun belajar banyak. Setahun setelah gempa, UU 24/2007 tentang Penanggulangan Bencana disahkan. Tahun 2008, untuk pertama kalinya Indonesia memiliki Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB).

Akibat Proses Alam

Dr Jatmika Setiawan, Ketua Jurusan Teknik Geologi Fakultas Teknologi Mineral UPN Veteran Yogyakarta mengakui, gempa Yogyakarta memang dahsyat. Meski ukurannya “hanya” 5,9 dalam skala Richter, tetapi karena merupakan gempa dangkal dan berlangsung lama, kerusakan yang terjadi sangat besar.

“Sehingga pada saat terjadi gempa bumi itu, karena sodokan lempeng Indo Australia ke utara, maka yang terjadi adalah gempa dangkal. Itu yang menyebabkan dahsyatnya gempa di Yogyakarta. Yang paling parah karena ternyata satu menit kurang tiga detik. Gempa-gempa yang dulu hanya 3 detik, 4 detik. Ini satu menit. Bayangkan gempa satu menit, apa yang terjadi,” kata Jatmika.

Dr Jatmika Setiawan, Geolog dari UPN Veteran Yogyakarta. (Foto:VOA/ Nurhadi)
Dr Jatmika Setiawan, Geolog dari UPN Veteran Yogyakarta. (Foto:VOA/ Nurhadi)

Dia juga memaparkan data kawasan Bantul, yang berbeda dengan wilayah lain di Jawa bagian selatan. Wilayah tengah kabupaten ini tidak memiliki pegunungan, sebagaimana ada di kabupaten Gunungkidul di timur atau Kulonprogo di barat. Prosesnya terjadi sejak jutaan tahun lalu, ketika gunung-gunung api di Samudera Indonesia hilang. Rangkaian gunung api itu kemudian muncul di tengah pulau Jawa, memanjang dari Krakatau di utara Banten hingga Gunung Ijen di Jawa Timur.

Proses itu menghasilkan dua patahan besar di Yogyakarta, yang dikenal sebagai patahan Opak di sisi timur dan Progo di sisi barat. Di tengah dua patahan itulah Yogyakarta berada, dan dalam proses jutaan tahun bergerak ke selatan dan semakin turun. Dalam periode tertentu, lempeng yang menjadi pondasi wilayah Yogyakarta ini bertabrakan dengan lempeng yang bergerak dari selatan, dan ketika itulah gempa terjadi.

“Pada saat sodokan terjadi, maka terbentuk gerakan kuat di jalur patahan Opak ini, dan refleksi yang paling kuat adalah di pertemuan antara sungai Oya dengan sungai Opak,” tambah Jatmika.

Ketika gempa 2006 terjadi, ada wilayah di sungai Opak yang terbelah sehingga seluruh aliran air dan tanah masuk ke dalamnya. Setelah penuh, retakan itu menutup kembali. Sementara belasan kilometer di timur titik itu, rekahan justru membuat air tanah menyembur hingga setinggi 15 meter.

Siswa SMP terlihat melalui lubang di dinding saat mengikuti pembelajaran di gedung sekolah sementara di Bantul, Yogyakarta, 25 Mei 2007. (Foto: REUTERS/Dwi Oblo)
Siswa SMP terlihat melalui lubang di dinding saat mengikuti pembelajaran di gedung sekolah sementara di Bantul, Yogyakarta, 25 Mei 2007. (Foto: REUTERS/Dwi Oblo)

Dua peristiwa ini turut menggambarkan bagaimana dahsyatnya gempa yang terjadi, dan mengakibatkan lebih 5.700 korban meninggal, dengan 4 ribu lebih adalah warga Bantul. Selain itu, ada lebih 26.200 korban luka berat dan ringan, serta 390.000 lebih rumah roboh. Total kerugian yang tercatat hampir Rp 30 triliun.

Pelajaran bagi Dunia

Lilik Kurniawan, S.T., M. Si., Sekretaris Utama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengingatkan, gempa bumi adalah bencana yang berulang. Karena itu, pemahaman masyarakat terkait bencana ini perlu dijaga.

Lilik juga mengakui, gempa 2006 telah memberikan pelajaran penting bagi Indonesia dalam mitigasi bencana. Budaya gotong royong masyarakat Yogyakarta, terutama para korban, bahkan tergaung sampai dunia internasional.

Lilik Kurniawan, Sekretaris Utama BNPB. (Foto: Nurhadi)
Lilik Kurniawan, Sekretaris Utama BNPB. (Foto: Nurhadi)

“Pelajaran itu kita implementasikan di tempat lain, karena ternyata kelebihan di Bantul adalah gotong royong. Dan gotong royong ini sudah menginspirasi pemerintah Indonesia, sehingga 6 tahun setelah kejadian gempa bumi di Bantul, tahun 2011 Presiden SBY mendapat Global Champion on Disaster Risk Reduction,” kata Lilik.

Dalam pertemuan menteri-menteri penanggulangan bencana se Asia-Pasifik tahun 2012 di Yogyakarta, Indonesia juga kembali mempresentasikan pelajaran dari gempa 2006. Pertemuan itu mengambil tema penguatan kapasitas lokal, yang secara sederhana disebut sebagai gotong royong. Deklarasi Yogya berhasil ditetapkan ketika itu, dan menjadi dokumen PBB.

“Tahun depan kita akan pertanggungjawabkan Deklarasi Yogya itu di acara pertemuan menteri penanggulangan bencana seluruh dunia di Bali,” tambah Lilik.

BNPB juga berpesan, karena tinggal di kawasan rawan bencana, simulasi dan edukasi pada masyarakat terkait kebencanaan harus terus dilakukan.

“Kita tidak pernah tahu, kapan gempa akan terjadi lagi. Tetapi ada kemungkinan bisa terjadi lagi di tempat yang sama. Tidak usah takut kalau kita siap, kita siaga,” tambahnya. [ns/ab]

Recommended

XS
SM
MD
LG