Tautan-tautan Akses

Seniman Cilik Buat Komik Selama 'Lockdown'


Lembaran komik strip empat panel 'Toko Kue Koguma', terlihat di ruang kerjanya di Tokyo, Jepang 8 Oktober 2020. Nadja Pivoff, perempuan berusia 9 tahun dari Boston, negara bagian Massachusetts. (Foto: Reuters/Issei Kato)
Lembaran komik strip empat panel 'Toko Kue Koguma', terlihat di ruang kerjanya di Tokyo, Jepang 8 Oktober 2020. Nadja Pivoff, perempuan berusia 9 tahun dari Boston, negara bagian Massachusetts. (Foto: Reuters/Issei Kato)

Nadja Pivoff, perempuan berusia 9 tahun dari Boston, negara bagian Massachusetts, telah menggambar sejak bisa memegang pensil. Menggambar adalah aktivitas yang penting baginya selama pembatasan sosial berskala besar akibat pandemi COVID-19.

Nadja Pivoff senang menggambar dan menyukai komik. Dia memperhatikan apa yang terjadi di sekelilingnya dan menggambarnya di kertas.

"Ini adalah caranya mengubah segala sesuatu di sekelilingnya menjadi karakter dan dunia komiknya sendiri. Dia menambahkan humor dan sarkasme, dan sedikit ironi terhadap apa yang ia lihat, situasi, orang... dan saya yakin itu sangat unik!" kata Olga Sushkova, ibu Nadja.

Kesepian karena pandemi dilampiaskan ke dalam komik. Bahkan buku matematikanya penuh dengan gambar-gambar.

Anak-anak membaca buku komik di pameran buku di Kuala Lumpur, Malaysia, Kamis, 9 September 2010. (Foto AP/Lai Seng Sin)
Anak-anak membaca buku komik di pameran buku di Kuala Lumpur, Malaysia, Kamis, 9 September 2010. (Foto AP/Lai Seng Sin)

"Makaroni ini saling berbicara satu sama lain, lalu ada orang yang ingin memakan mereka. Dan Mereka tidak tahu apa yang akan terjadi...," kata Nadja.

Selama lockdown, Nadja memulai kelas menggambar komik secara online yang menjadi hobi serius. Seniman muda ini bahkan mendapat sedikit penghasilan dari karyanya.

Bersama ibunya, Nadja memutuskan topik apa yang akan dibahas dan bagaimana menyajikannya dalam kelas.

Sushkova mengatakan berkat perencanaan dan latihan, keterampilannya semakin berkembang.

"Dia membuat dunia komiknya semakin dalam dan lebih rumit; dia memperluas kumpulan gagasan dan alat yang digunakan untuk menyalurkan pikiran dan emosi. Wajah-wajah karakternya semakin detil, dia sangat memperhatikan mimik. Dia mengembangkan gaya sendiri, membuatnya lebih bernuanasa," kata Olga.

Pada awal karantina, Nadja membuat komik mengenai virus corona yang tiba di Bumi dari Bulan - dan dinosaurus berlarian menghindarinya. Kini, setahun kemudian, dia memusatkan perhatian pada seorang Superhero baru.

"Saya mulai menggambar komik mengenai Superhero bernama VaXine yang berperang melawan virus corona. Dia menunjukkan kepada semua orang betapa kerennya dia," kata Nadja.

Dalam dunia imajinasi Nadja, VaXine melacak virus corona dan memberantasnya. Dengan melakukan hal itu, VaXine membebaskan dunia dan membuat Nadja bisa menemui teman-temannya lagi secara langsung. [vm/jm]

XS
SM
MD
LG