Australia, yang peduli dengan jaringan perdagangan regionalnya yang luas, bergabung bersama Jepang, India dan Amerika Serikat dalam menghadapi ekspansi China dalam sengketa maritim terbesar di Asia.
Enam kapal perang Australia bergerak menuju Laut China Selatan pekan ini, tanpa menyebutkan tujuannya, untuk melakukan latihan militer. Media Australia menyebut ini adalah misi terbesar Australia dalam 30 tahun ini.
Para pemimpin Australia menginginkan pemilih mereka, juga negara-negara tetangganya di Asia, untuk menganggap Canberra sebagai pembela supremasi hukum di Laut China Selatan, konsisten dengan peran yang dijalankannya sejak Perang Dingin, kata para analis.
Departemen Pertahanan Australia menyatakan akan meningkatkan anggaran militernya menjadi 2 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) pada tahun 2021. PDB Australia adalah salah satu yang paling pesat pertumbuhannya di Asia Pasifik. Anggaran militer Australia untuk periode 2017-2018 adalah 27,4 miliar dolar.
Ini mungkin efektif membantu Amerika Serikat membendung China di lautan, di mana Beijing mengklaim sekitar 90 persen wilayah maritim, yang tumpang tindih dengan zona ekonomi eksklusif empat negara di Asia Tenggara yang secara ekonomi dan militer lebih lemah.
Presiden Amerika Donald Trump lebih berfokus pada pembuatan misil Korea Utara daripada ekspansi maritim China selama tujuh tahun ini, yang merupakan prioritas bagi pendahulunya, Barack Obama. [uh/lt]