Tautan-tautan Akses

Kasus COVID-19 Meningkat, Osaka Berlakukan Kebijakan Semi-darurat


Osaka dan dua prefektur tetangganya di utara, Hyogo dan Miyagi, mengalami peningkatan tajam kasus harian sejak awal Maret. (Foto: ilustrasi).
Osaka dan dua prefektur tetangganya di utara, Hyogo dan Miyagi, mengalami peningkatan tajam kasus harian sejak awal Maret. (Foto: ilustrasi).

Jepang akan menempatkan Osaka dan dua prefektur lain dalam keadaan semi-darurat mulai pekan mendatang. Langkah ini diambil pemerintah Jepang karena tingkat penularan virus corona di kawasan-kawasan itu meningkat kurang dari empat bulan sebelum Olimpiade Tokyo berlangsung.

Osaka dan dua prefektur tetangganya di utara, Hyogo dan Miyagi, mengalami peningkatan tajam kasus harian sejak awal Maret, segera setelah Jepang melonggarkan kebijakan keadaan darurat parsial dan tidak mengikat yang dimulai pada Januari.

Jepang mencabut keadaan darurat di wilayah Tokyo pada 21 Maret, mengakhiri sepenuhnya langkah-langkah yang bertujuan memperlambat laju penularan virus corona dan mengurangi tekanan pada sistem medis yang menangani pasien COVID-19.

Para ahli telah menyuarakan keprihatinan mereka tentang lonjakan cepat di Osaka dan beban pada sistem medisnya. Sebuah pertandingan internasional seluncur indah di kota Osaka pada pertengahan April akan dilangsungkan di bawah peraturan baru tersebut.

Menteri revitalisasi ekonomi Yasutoshi Nishimura mengatakan, Kamis (1/4), pada pertemuan panel pemerintah bahwa ketiga prefektur itu akan ditetapkan dalam status semi-darurat berdasarkan undang-undang penanggulangan situasi merajalela mulai Senin mendatang selama satu bulan.

Undang-undang yang mulai diberlakukan Februari lalu itu pada intinya adalah tindakan pra-darurat yang memungkinkan pemimpin prefektur meminta atau memerintahkan para pemilik bisnis mempersingkat jam operasional usaha mereka dan mengambil langkah-langkah lain. Undang-undang ini memungkinkan pemberian kompensasi bagi mereka yang mematuhi dan denda bagi mereka yang melanggar.

Seorang pria mengenakan masker di tengah pandemi COVID-19 di depan lambang cincin Olimpiade raksasa di Tokyo, Jepang, 13 Januari 2021. (Foto: dok)
Seorang pria mengenakan masker di tengah pandemi COVID-19 di depan lambang cincin Olimpiade raksasa di Tokyo, Jepang, 13 Januari 2021. (Foto: dok)

Jepang sejauh ini berhasil mengendalikan pandemi jauh lebih baik daripada Amerika Serikat dan Eropa. Negara itu belum pernah memberlakukan lockdown yang mengikat. Tetapi pemerintah Perdana Menteri Yoshihide Suga kesulitan mengendalikan penyebaran virus sementara meminimalkan kerugian ekonomi.

Jepang memiliki 474.773 kasus dan 9.162 kematian hingga Rabu (31/3), menurut Kementerian Kesehatan. Jumlah kasus harian di Osaka sekitar 200 lebih tinggi daripada Tokyo. Banyak pakar mengatakan, varian baru virus itu yang lebih mudah menular sedang meningkat di Osaka. [ab/lt]

Recommended

XS
SM
MD
LG