Kim Jong Un Kecam Media Korea Selatan atas 'Rumor' Kerusakan akibat Banjir

Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un dan Perdana Menteri Kim Tok Hun mengunjungi daerah yang terkena banjir di dekat perbatasan dengan China, di Provinsi Pyongan Utara, 31 Juli 2024. (Foto: via Reuters)

Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un menuding media Korea Selatan menyebarkan rumor tentang kerusakan akibat banjir yang merenggut korban jiwa di negaranya, kata media pemerintah Sabtu (3/8). Hal itu terjadi beberapa hari setelah Seoul mengulurkan bantuan kemanusiaan.

Korea Utara melaporkan pada awal minggu ini bahwa banjir di wilayah utara merenggut sejumlah korban yang tidak disebutkan jumlahnya, serta merusak ribuan rumah.

Pada Kamis, Seoul mengungkapkan kesediaan untuk "segera mengulurkan" bantuan kemanusiaan kepada "korban bencana di Korea Utara," setelah laporan berita Korea Selatan memperkirakan jumlah korban tewas dan hilang mencapai hingga 1.500 orang.

Laporan dari TV Chosun, yang kemudian dipublikasikan oleh media lain, juga mencatat kemungkinan petugas penyelamat yang turut tewas akibat kecelakaan helikopter.

Daerah yang terkena banjir di Provinsi Pyongan Utara, Korea Utara, dekat perbatasan dengan China, 31 Juli 2024. (Foto: via Reuters)

Namun, Kim mengecam laporan tersebut karena "menyebarkan rumor palsu bahwa korban jiwa ... diperkirakan lebih dari 1.000 atau 1.500", menurut Kantor Berita Pusat Korea Pyongyang.

KCNA melaporkan pada Sabtu bahwa Kim "dengan tegas mengecam kebiasaan buruk dan sifat tercela dari sampah ROK," yang merujuk pada Korea Selatan.

Laporan banjir tersebut merupakan "kampanye kotor" Korea Selatan untuk mempermalukan kita dan mencoreng" citra Korea Utara, tambahnya.

Pyongyang pada Rabu mengungkapkan bahwa pejabat yang lalai dalam menjalankan tugas pencegahan bencana telah mengakibatkan korban yang tidak disebutkan jumlahnya, tanpa memberikan rincian lokasi.

Namun, Pyongyang mengatakan Sabtu bahwa tidak ada korban sama sekali di wilayah Sinuiju, wilayah yang menurut Pyongyang mengalami "kerusakan banjir terbesar".

BACA JUGA: Banjir Besar Landa Korea Utara, Rendam Ribuan Rumah dan Lahan Pertanian Warga

Angkatan Udara Korea Utara diklaim berhasil menyelamatkan lebih dari 5.000 orang, dengan sekitar 4.200 orang di antaranya diselamatkan menggunakan helikopter dalam waktu "beberapa jam".

Hubungan antara kedua Korea berada pada salah satu titik terendah dalam beberapa tahun. Namun minggu ini, Kementerian Unifikasi dan Luar Negeri Korea Selatan menyampaikan belasungkawa kepada para korban banjir di Korea Utara.

Seoul mengungkapkan pada Jumat bahwa mereka belum menerima tanggapan setelah mencoba menawarkan bantuan kemanusiaan melalui saluran komunikasi di kantor penghubung Korea.

Korea Utara menyebut Korea Selatan sebagai musuh utamanya pada awal tahun ini, dan Pyongyang belum merespons panggilan telepon melalui hotline penghubung antar-Korea sejak April 2023. [ah/ft]