Presiden AS Donald Trump telah tiba di Jepang untuk kunjungan kenegaraan empat hari yang umumnya bersifat seremonial, meskipun seorang pejabat Gedung Putih berjanji "akan ada beberapa hal substantif yang akan diumumkan."
Setibanya di bandara, Sabtu (25/5) petang, Trump langsung menuju ke kediaman resmi duta besar AS untuk bertemu dengan puluhan pemimpin bisnis Jepang.
"Hubungan dengan Jepang dan AS dapat saya katakan tidak pernah sekokoh ini, tidak pernah sekuat ini, tidak pernah sedekat ini," kata presiden kepada para eksekutif itu. "Ini adalah waktu yang tepat bagi perdagangan antara kedua negara yang sama-sama kita cintai."
Trump menyatakan harapan AS dan Jepang akan segera meraih kesepakatan perdagangan baru.
"Jepang telah mendapat keuntungan substansial selama bertahun-tahun, tapi tidak apa, mungkin itu sebabnya kalian suka sekali dengan kami," kata Trump. Dia menambahkan bahwa ketidakseimbangan perdagangan yang lebih menguntungkan Jepang selama puluhan tahun ini akan menjadi "sedikit lebih adil."
Namun lawatan Trump pada umumnya akan lebih fokus pada kesempatan foto bersama ketimbang pencapaian kesepakatan. Dan itu mungkin memang disengaja oleh Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe, yang sudah membina hubungan dekat dengan Trump. Keduanya sudah bertemu atau berbicara lebih dari 40 kali.
Profesor Tomohiko Taniguchi dari Universitas Keio, penulis naskah pidato kebijakan luar negeri perdana menteri, mengantipasi hanya sedikit pembicaraan yang bersifat substantif selama kunjungan ini. Tetapi Taniguchi mengingatkan bahwa Abe adalah satu-satunya pemimpin luar negeri yang bisa "menghabiskan waktu berjam-jam dengan Trump, dan berbicara tanpa persiapan, sesuatu yang punya nilai strategis untuk diplomasi Jepang."
Ketika ditanya oleh VOA apakah lawatan ini akan menghasilkan sesuatu bermakna terkait perdagangan dan kerja sama pertahanan, seorang pejabat senior Amerika mengatakan, “mereka akan mengumumkan beberapa hal yang menarik sehubungan lingkup hubungan kedua negara.” [vm]