Tautan-tautan Akses

Doa Lintas Agama untuk Pasien COVID-19 dan Staf Rumah Sakit Afsel


Pria Kristiani bergabung dalam pertemuan antaragama untuk berdoa bagi pasien COVID-19 di Rondebosch Medical Center, di Cape Town pada 14 Januari 2021. (Foto: AFP/Rodger Bosch)
Pria Kristiani bergabung dalam pertemuan antaragama untuk berdoa bagi pasien COVID-19 di Rondebosch Medical Center, di Cape Town pada 14 Januari 2021. (Foto: AFP/Rodger Bosch)

Beberapa video yang kemudian viral beredar belum lama ini, memperlihatkan kelompok doa lintas agama yang mendatangi rumah sakit-rumah sakit di Cape Town, Afrika Selatan, untuk mendoakan pasien COVID-19 dan para petugas kesehatan di garis depan.

Umat Islam dan Kristen, sambil berdiri bersisian, bersama-sama mengangkat atau menangkupkan tangan mereka sewaktu mereka berdoa bagi pasien yang terjangkit virus corona serta para petugas layanan kesehatan di sebuah kota pesisir di Afrika Selatan, Cape Town.

Dalam rekaman video awal tahun ini yang kemudian viral, kelompok-kelompok yang berasal dari beragam agama dan latar belakang lainnya tampak bergantian ambil bagian dalam doa bersama di luar rumah sakit-rumah sakit awal tahun ini. Ini merupakan suatu unjuk dukungan spiritual sementara gelombang ke-dua wabah merajalela di berbagai penjuru negara itu.

“Khusus dalam program rumah sakit ini dan doa ini, kami memastikan ada orang lain bersama dengan kami. Ini menciptakan suasana yang lebih baik. Ingat, Muslim Afrika Selatan hanya 2,5 persen populasi, jadi sebagian besar pasien adalah umat Kristen. Jadi kami memerlukan umat Kristen, bahkan penganut Hindu untuk berdoa bersama-sama mereka juga," kata koordinator salah satu kelompok doa bersama itu, Sheikh Saleh Isaacs.

Pria Muslim bergabung dalam pertemuan antaragama untuk berdoa bagi pasien Covid-19 di Rondebosch Medical Center, di Cape Town pada 14 Januari 2021. (Foto: AFP/Rodger Bosch)
Pria Muslim bergabung dalam pertemuan antaragama untuk berdoa bagi pasien Covid-19 di Rondebosch Medical Center, di Cape Town pada 14 Januari 2021. (Foto: AFP/Rodger Bosch)

Pastor Gerhard de Vries Block dari Gereja Evangelis Lutheran mengemukakan, “Dalam keadaan normal, para pemimpin di komunitas ini akan datang dengan bebas ke rumah umat yang sakit atau yang sedang berduka. Namun karena lockdown, kami tidak diizinkan melakukan hal itu lagi.”

Imam Sheikh Saleh Isaacs telah berdoa di belasan pintu masuk dan tempat parkir mobil di rumah sakit-rumah sakit.

Sekarang ini mereka melakukannya hanya di lingkungan rumah sakit, kata Isaacs kepada AFP. Namun, lanjut koordinator kelompok doa ini, pihaknya sedang memikirkan untuk dalam waktu dekat mendatangi tempat-tempat yang memberikan perawatan bagi mereka yang tidak memiliki harapan untuk sembuh dan panti-panti perawatan lansia.

Prakarsa itu merupakan cara untuk menyatakan solidaritas dengan para pasien yang berjuang sendirian melawan COVID-19, terisolasi dari keluarga dan teman-teman di dalam bangsal-bangsal rumah sakit yang diselubungi plastik.

“Kami mungkin tidak selalu memiliki sesuatu untuk disampaikan. Tetapi sekadar berada di sana memberi arti yang sangat banyak,” ujar de Vries Block. Ia menambahkan bahwa para petugas kesehatan di garis depan memerlukan dukungan kita semua. “Mereka memerlukan doa kita seperti halnya mereka yang sakit dan berduka,” lanjutnya.

Pertemuan antaragama untuk berdoa bagi pasien COVID-19 di Rondebosch Medical Center, di Cape Town pada 14 Januari 2021. (Foto: AFP/Rodger Bosch)
Pertemuan antaragama untuk berdoa bagi pasien COVID-19 di Rondebosch Medical Center, di Cape Town pada 14 Januari 2021. (Foto: AFP/Rodger Bosch)

Isaacs menambahkan partisipan yang secara pribadi mengenal seorang pasien atau pekerja kesehatan, akan berdoa di luar jendela kenalan mereka.

Peserta masing-masing sesi dibatasi hanya 15 orang, dengan kewajiban mengenakan masker dan melaksanakan social distancing. Pengunjung yang datang tak terduga diminta untuk tetap berada di mobil mereka.

Isaacs mengatakan, “Kami menggunakan pengeras suara agar mereka dapat mendengar suara kami. Tetapi yang utama adalah visual kehadiran kami yang dapat memberi mereka harapan.”

Ia juga menambahkan bahwa kegiatan doa bersama ini menyadarkan kita akan konsep mengenai keberadaan manusia.

Seorang pegawai kamar mayat mengenakan APD sedang memeriksa peti mati korban COVID-19 dalam wadah berpendingin di Johannesburg, Selasa, 2 Februari 2021. (Foto: AP)
Seorang pegawai kamar mayat mengenakan APD sedang memeriksa peti mati korban COVID-19 dalam wadah berpendingin di Johannesburg, Selasa, 2 Februari 2021. (Foto: AP)

“Aktivitas ini adalah aktivitas yang membuat Anda menyadari konsep utuh mengenai eksistensi kita, bahkan kita di sini untuk melengkapi satu sama lain. Bahkan Alquran, Alkitab, Taurat, atau kitab berbahasa Sansekerta, mereka semua menyebutkan tentang kerja sama," kata Sheikh Saleh Isaacs.

Afrika Selatan telah mencatat jumlah korban virus corona yang terbanyak di benua Afrika, dengan catatan lebih dari 1,3 juta kasus dan 37 ribu kematian yang terkukuhkan sejauh ini.

Gelombang wabah kedua bermula pada Desember lalu dan dipicu oleh varian baru virus yang diyakini luas lebih mudah menular. [uh/ab]

XS
SM
MD
LG