Juru bicara pemerintah Jerman, Steffen Seibert, dalam pernyataan Selasa (18/10) mengemukakan bahwa Kanselir Jerman Angela Merkel mengundang para pemimpin asing untuk “membahas langkah-langkah selanjutnya” yang diperlukan guna memastikan perdamaian di kawasan.
Keputusan mengenai pertemuan hari Selasa (18/10) itu muncul setelah komunikasi sporadis antara keempat pihak selama pekan lalu. Menurut Seibert, pertemuan ini diperkirakan tidak akan menghasilkan suatu terobosan.
“Jika ada pertemuan semacam itu, tak ada yang berharap pertemuan ini akan menyelesaikan semua masalah,” ujarnya hari Senin.
Tujuan pertemuan ini adalah membantu Ukraina menetapkan kembali perbatasan-perbatasannya setelah Rusia menganeksasi Semenanjung Krimea pada tahun 2014. Rusia mendukung kelompok pemberontak di Ukraina Timur yang menguasai daerah tersebut.
Perjanjian Minsk, yang ditandatangani di ibukota Belarusia pada September 2014 oleh wakil-wakil Ukraina, Rusia dan kelompok pemberontak separatis, meminta Ukraina agar mendesentralisasi kekuasaan dan memberlakukan undang-undang mengenai pemberian otonomi di daerah-daerah di Ukraina Timur yang sekarang ini dikuasai separatis.
Ukraina menuduh Rusia tidak berbuat banyak untuk mempengaruhi pemberontak agar menyerahkan kontrol atas beberapa daerah di perbatasan Ukraina-Rusia.
Rusia sendiri menuduh Ukraina tidak menerapkan amendemen konstitusional yang menurut Moskow diperlukan untuk memberikan otonomi ke beberapa daerah di Ukraina Timur.
Semua pihak yang terlibat telah menyetujui ketentuan-ketentuan dalam perjanjian perdamaian yang ditandatangani tahun 2015, meskipun perjanjian ini gagal menghentikan pertempuran di daerah tersebut. [uh/lt]